18 Nov
18Nov

Serang, Banten - Tim Tugas Khusus Cesium-137 Indonesia telah berhasil mengevakuasi 975 ton limbah radioaktif dari Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten. Proses pembersihan ini merupakan salah satu operasi dekontaminasi terbesar di Indonesia, dan ditargetkan selesai pada akhir November 2025.

Rasio Ridho Sani melaporkan bahwa sejumlah pabrik yang sebelumnya dinyatakan terkontaminasi kini sudah dinyatakan aman dan kembali beroperasi. Di beberapa “Zona Merah” (seperti zona A, C1, D, H, dan I), tingkat radiasi sudah turun dan dinyatakan aman oleh Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). 

Sementara itu, di lokasi lain (Zona B, E, F, F1), upaya “pengecementan” (containment) dilakukan menggunakan beton mutu tinggi, dan area yang masih berisiko sedang dipagari demi menjaga keselamatan publik

Yudi Pramono, Direktur Teknik Nuklir dan Kesiapsiagaan di Bapeten, menyampaikan bahwa radiasi di titik-titik yang sudah ditangani kini berada di bawah 0,5 mikrosievert/jam, yang dikategorikan sebagai level aman untuk paparan publik. 

Dekontaminasi ini juga dilengkapi dengan monitoring jangka panjang agar dampak radiasi terhadap masyarakat sekitar bisa dikendalikan secara berkelanjutan.

(Sumber : antaranews.com - Indonesia removes 975 tons of radioactive waste in Banten)

Penutup

Upaya pemindahan dan penanganan 975 ton limbah radioaktif Cesium-137 di Cikande menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam memastikan keselamatan lingkungan dan masyarakat. Turunnya tingkat radiasi di berbagai zona, serta langkah containment pada area yang masih berisiko, menjadi bukti bahwa proses dekontaminasi berjalan terukur sesuai standar keselamatan nuklir. Meski demikian, pengawasan jangka panjang tetap menjadi kunci agar tidak terjadi kembali insiden serupa di masa depan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengawas, industri, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga keamanan lingkungan, sekaligus memastikan bahwa kawasan industri di Indonesia beroperasi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.